RSS Feed

Pembunuhan Sapi, Kambing, dan Babi.

Posted on

Saya sempat berbincang-bincang dengan keluarga salah satu teman saya yang berkewarganegaraan Jerman mengenai daging. Ya, daging. Daging apa saja, dari Sapi sampai Babi. Perbincangan ini diawali dengan topik bahwa “Saya muslim, dan saya tidak makan babi” serta tentang Idul Adha, lalu muncullah topik ini, Bagaimana seonggok daging bisa dikatakan “halal” menurut standar muslim di Indonesia.

Daging “halal”; menurut sepengetahuan saya yang mendapatkan pendidikan islam dan muslim sedari lahir adalah daging yang berasal dari hewan yang disembelih (dan mati, tentu saja) dengan nama Allah. Minimal, kata “Bismillahirohmanirohim” diucapkan sebelum menyembelih hewan. Kata “disembelih” tentu saja, si hewan mati karena sentuhan benda tajam di bagian lehernya supaya mati, dan dagingnya bisa dikonsumsi untuk keperluan manusia. Daging si hewan tersebut juga dijamin halal, karena telah disembelih dengan nama Allah sebelumnya.

Setelah saya ceritakan hal tersebut ke keluarga Jerman yang kebetulan keluarga peternak, mereka menganggap metode penembelihan hewan ternak merupakan metode yang kejam karena si hewan mati pelan-pelan dan tentu saja hal itu menyakitkan. Metode penyembelihan itu membuat daging si ternak tidak lembut, tidak segar, dikarenakan otot-otot si ternak menjadi kaku dan tegang karena rasa stres yang dialami saat kematiannya. Mereka, juga menganggap dengan penyembelihan, manusia tidak memiliki rasa hormat terhadap makhluk hidup termasuk binatang dan oleh karena itu, mereka memiliki cara lain untuk mengambil nyawa si hewan ternak dan menurut mereka, lebih berperikebinatangan daripada penyembelihan. Mereka juga tidak pernah “membunuh” hewan ternak mereka di depan hewan-hewan ternak yang lain. Penyembelihan juga dilarang di Jerman dan ada pasalnya karena hal itu dianggap kejam dan merupakan bentuk penganiayaan terhadap sesama makhluk hidup.

Mereka menggunakan pistol khusus dan menembakkannya ke kepala si hewan ternak supaya kerja sistem otaknya mati terlebih dahulu dan tentu saja, hal ini membuat si hewan ternak mati lebih cepat; dibandingkan dengan metode penyembelihan. Dengan metode “penembakkan”; si hewan langsung mati dan tidak bergerak, sementara dengan metode “penyembelihan”; si hewan tidak langsung mati. Saya pernah menyaksikan prosesi penyembelihan ini waktu Idul Adha, dan memang menyedihkan. Si hewan ternak menyaksikan teman-temannya disemebelih, di depannya. Ia terus melenguh, memelas, dan matanya nampak berkaca-kaca. Saat gilirannya, dia memberontak. Saat telah disembelih, si sapi malang ini masih bergerak-gerak. Mungkin sekitar 10-15 menit barulah ia terbujur kaku tanpa nyawa.

Terlepas dari “halal” atau tidak; menurut saya, metode yang mereka miliki lebih baik dan lebih bermoral daripada metode penyembelihan yang mengatasnamakan halal itu sendiri. Itu menurut saya. Bagaimana menurut Anda? Siapa tahu “pembunuhan” hewan ternak dapat menggunakan metode “penembakkan” terlebih dahulu dan “penyembelihan” supaya ritual “penghalalan” daging tetap dapat dilanjutkan.

About Karaleva

too random girl, has too less place for her thoughts.

3 responses »

  1. olgaaa. tonton the cove dan earthlings deh ga

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: